Oleh : Ridwan
DUA abad lebih bukanlah usia yang muda buat sebuah peradaban, ada banyak cerita dan banyak hal yang mewarnai perjalanan sejarah sebuah Negeri.
Sejak tahun 2016 silam, Pemerintah Kecamatan Bolangitang Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), mulai merayakan ulang tahun Bolangitang, saat itu (2016) masuk usia ke-223 tahun negeri ini.
Hari ini, Selasa 21 November 2023, Pemerintah Kecamatan Bolangitang Barat memperingati Harlah ke-230 Bolangitang, kegiatan ini digelar di Lapangan Sogi Kecamatan Bolangitang Barat, kegiatan berlangsung meriah, dihadiri oleh berbagai pihak. Kegiatan ini mengusung tema : Bulangita Lipu Huta Kino Jadia Inami (Bolangitang Negeri Tempat Kami Dilahirkan).
Bolangitang, negeri yang merupakan satu kesatuan tak terpisah dari Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Bolangitang, kini telah menjadi dua Kecamatan, yakni Bolangitang Barat dan Bolangitang Timur. Kedua wilayah kecamatan ini memiliki kekayaan sejarah sendiri yang ikut memperkaya khazanah sejarah Bolaang Mongondow Utara.
Tanggal 21 November adalah Ulang Tahun Bolangitang, jika kita bedah literatur tertulis tentang ini, satu-satunya literatur pustaka adalah Buku Sejarah Kaidipang dan Bolangitang, tulisan Prof HT Usup (Almarhum).
Disamping itu, tak kalah penting juga ditelusuri literatur dalam tradisi bertutur lisan dari beberapa tokoh yang kiranya mengetahui persis perihal kesejarahan ini.
Tercatat, bahwa Kaidipang dan Bolangitang, berawal dari Kedatuan Mokapog.
Selanjutnya Kerajaan Kaidipang berdiri dengan Rajanya yang pertama adalah Pugupugu, yang bergelar Datu Binangkal Korompot.
Berdirinya kerajaan Kaidipang, maka secara taktis Bolangitang dibawah Kerajaan Kaidipang. Perkembangan selanjutnya, Bolangitang berdiri dan berdaulat menjadi Kerajaan Bolangitang. Sehingga Kaidipang dan Bolangitang menjadi dua kerajaan yang masing-masing berdaulat.
Tahun 1912, oleh Pemerintah Hindia Belanda, Kaidipang dan Bolangitang, digabung menjadi satu kerajaan yang diberi nama Kerajaan Kaidipang Besar dengan Rajanya adalah RS Pontoh.
Secara khusus tentang Dirgahayu ke-230 Tahun Bolangitang, momentum kesejarahannya ada di Tanggal 21 November 2023, dan kiranya ini menjadi bulan penting dalam perjalanan sejarah Bolangitang.
Dalam catatan sejarah yang ditulis oleh Prof. Dr. Hi. HT Usup (Almarhum), maka akan kita dapati tentang kelumit sejarah berdirinya Bolangitang, menjadi sebuah kerajaan yang berdaulat di tanggal 21 November 1793. Maka kalau dihitung, sesungguhnya Negeri Bolangitang itu telah berusia 229 Tahun pada tanggal 21 November 2022 ini.
Ada hal penting yang terjadi di tahun 1793 silam. Berdasarkan beberapa manuskrip lama, surat menyurat antara Penghulu Bolangitang (Antogia Pontoh) dengan Kesultanan Ternate, bahwa pernah terjadi kontak-kontak antar kerajan ditahun 1793.
Kontak-kontak lewat surat ini, sehubungan dengan pendirian Kerajaan Bolangitang, pada awalnya dibawah taktis pemerintahan Kaidipang. Sehingga Bolangitang dikala itu dinaikkan statusnya menjadi sebuah Kerajaan yang berdaulat, berpisah secara de Jure dari Kaidipang.
Walaupun menjadi masing-masing dua kerajaan yang berdaulat, namun Kaidipang dan Bolangitang, tak terpisah secara peradatan, emosional dan kekeluargaan, secara peradatan mereka tetap menganut adat yang sama, secara kekeluargaan mereka berasal dari kerabat dekat dan secara emosional mereka saling menjaga, menghormati dan melindungi, karena awalnya mereka adalah satu.
Tak ada riak konflik dalam pemisahan kerajaan ini, semua berjalan damai dan penuh kasih sebagai dua orang yang saling menyayang.
Pendirian kerajaan Bolangitang, dirundingkan di Loji (bangunan VOC) di Manado, yang bernama Loji Amsterdam.
Dalam perundingan itu dihadiri oleh Pemerintah VOC, Sultan Ternate, dan Raja Willem David Korompot (Kaidipang). Dan perundingan itu dihasilkan sebuah konsensus bersama tentang pendirian Kerajaan Bolangitang.
Disamping ditetapkannya Bolangitang menjadi sebuah Kerajaan berdaulat, diangkatlah rajanya yang pertama adalah Paduka Raja Salmon Muda Pontoh. Raja Salmon Muda adalah Putra dari Antogia Pontoh, yang merupakan Penghulu Bolangitang sebelum Bolangitang menjadi Kerajaan.
Raja Salmon Muda Pontoh, dilantik pada tanggal 21 November 1793, sebagai Raja Pertama Bolangitang. Pusat Kerajaan Bolangitang dan Istananya berada di Desa Sonuo, saat ini (Kompleks Mesjid Al Ikhlas).
Tanggal 21 November 1793 sebagai awal waktu dimulainya pemerintahan Kerajaan Bolangitang. Sehingga tanggal ini menjadi Ulang Tahun Bolangitang yang terus diperingati setiap tahunnya. dan pada Tanggal 21 November 2023 ini, wilayah Bolangitang telah berusia 229 tahun.
Masih dalam catatan Prof. H.T. Usup, Sejak tahun 1793 Bolangitang diperintah oleh Raja-raja yaitu :
Raja Salmon Muda Pontoh
Memerintah sebagai Raja Bolangitang, dari tahun 1793 sampai dengan 1823, ibukota kerajaan terletak di Sonuo.
Gelar Ombuina Kinumilato
Raja Daud Pontoh
Daud Pontoh merupakan putera dari Raja Salmon Muda Pontoh, memerintah selama 40 tahun, dari tahun 1823 sampai dengan 1863. Di masa pemerintahan Raja Daud Pontoh, Agama islam mulai masuk dari Gorontalo dan menyebar di masyarakat.
Gelar Ombuina ko Takabiru
Raja Philips Pontoh
Raja Philips Pontoh merupakan saudara dari Raja Daud Pontoh, dilantik sebagai raja, namun tidak memerintah lama, karena mengalami sakit hingga wafat di Manado (Singkil), diangkat sebagai raja pada tahun 1863 dan wafat dalam tahun yang sama.
Gelar Ombuina ko Singgilo
Raja Israel Pontoh
Raja Israel Pontoh merupakan putera dari Raja Daud Pontoh, memerintah selama 17 Tahun, dari Tahun.1863 hingga 1880
Gelar Ombuina pinodunungo (penghibur rakyat).
Raja Togupat Pontoh
Raja Togupat Pontoh adalah Putera dari Piantai Pontoh, memerintah selama 8 bulan di Tahun 1880.
Raja Pade Pontoh
Raja Pade Pontoh merupakan putera dari Piantai Pontoh (saudara seayah dengan Raja Togupat, dari ibundanya Boki Linggakoa). Memerintah selama 9 bulan, dari tahun 1881 sampai dengan 1882.
Gelar Ombuina ko Monaru.
Raja Suit Pontoh
Raja Suit Pontoh merupakan putera dari Sogosa Pontoh, memerintah selama 18 Bulan, dari tahun 1882 sampai 1883.
Gelar Ombuina ko Milumilungo
Raja Bonji Pontoh
Raja Bonji Pontoh merupakan putera dari raja Philips Pontoh, memerintah selama 23 Tahun, yaitu tahun 1883 sampai 1906.
Gelar Ombuina ko Jamala:ngo.
Usai pemerintahan Raja Bonji Pontoh ini terjadi penggabungan kerajaan Kaidipang dan Bolangitang dengan rajanya yaitu Paduka Raja Ram Suit Pontoh yang memerintah dari tahun 1912 sampai dengan 1950.
Usai Proklamasi 17 Agustus 1945, kerajaan-kerajaan di Indonesi bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tanggal 23 Maret 1954, Atas keputusan pemerintah pusat di Jakarta, Bolaang Mongondow menjadi Kabupaten, maka sejak saat itu, Wilayah Kaidipang Besar menjadi wilayah Kewedanaan Kaidipang diperintah oleh Kepala Pemerintahan Negeri (KPN) dan Bolangitang menjadi wilayah Asisten Kewedanaan yang diperintah oleh Asisten Wedana (AW).
Adapun urutan Kepala Distrik dan Asisten Wedana dan Wedana di Bolangitang sejak tahun 1945. yaitu :
S.M. Pontoh, Kepala Distrik (1950)
E. S. Pontoh, Asisten Wedana (1950 – 1953)
S. M. Pontoh, Asisten.Wedana (1953 – 1956)
E.S. Pontoh, Asisten Wedana (1956 – 1959)
T. H. Patadjenu, Asisten Wedana (1959 – 1960)
E. S. Pontoh, Asisten Wedana (1960 – 1962)
Yakin S. Manopo, Asisten Wedana (1962 – 1965)
S. M. Pontoh, Asisten Wedana (1965 – 1967)
Condrat O. Ph. Pontoh, Kepala Kecamatan (1967 – 1969)
Hem A. Pasambuna, Kepala Kecamatan (1969 – 1970)
Pares Podomi, BA., Kepala Kecamatan (1970 – 1975)
Asrin Kadulah, BA., Kepala Kecamatan (1975 – 1980)
M.S. Tungkagi, Camat 1980 – 1984)
R.A. Dolot, BA, Camat 1984 – 1987
M.B. Lauma, Camat 1987 – 1989
Drs. S.I. Mokoagow, Camat 1989 – 1993
W. Damopolii, BA, Camat 1993 – 2001
Drs. Sehan Mokoagow, Camat 1999 – 2001
Hariono Sugeha, S.H, Camat 2001 – 2003
Dj. Latamu, SmH, Camat 2003 – 2009
Hi. Tonny Talibo, Camat 2009 – 2010
Drs. Halifax Olii, Camat 2010 – 2015
Fadly Usup, SE, MM Camat 2015 – 2017
Usman Djarumia, S.Pd Camat 2017 – 2019
Supriadi Goma, S.Pd Camat 2019 – 2022
Kamil Pontoh, S.Sos Camat 2022 – sekarang
Dirgahayu ke-230 Lipu Bulangita.
Dari berbagai sumber
(Ridwan)










