Oleh: Satrin Lasama
PERISTIWA tragis menewaskan seorang bocah perempuan Zha Tilfa Azahra Mokoagow (8) di Desa Tutuyan Kecamatan Tutuyan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) Sulut menjadi perhatian serius Bupati Sam Sachrul Mamonto.
Mengapa tidak. Meski sudah lama meninggalkan profesi wartawan, namun naluri jurnalis ‘Alul’ sapaan akrab Bupati Boltim itu masih tetap melekat dibenaknya. Hal ini dapat dilihat saat peristiwa naas, Alul bersama beberapa teman pejabat berusaha keras untuk memecahkan misteri penemuan sesosok mayat perempuan di kawasan perkebunan daerah itu.
Sebagaimana dilansir dari akun Facebook atas nama Sam Sachrul Mamonto, mantan Wartawan POSKO Manado (JPNN) itu pasca hilangnya salah satu warga, dia mulai menggali informasi seputar atas hilangnya Zha. Informasi pun dikumpulkan sedikit demi sedikit mulai dari teman-teman sekolah korban, kapan korban pulang sekolah, bermain dengan siapa, dan bahkan siapa orang terakhir yang melihat bocah naas tersebut.
Walhasil, didapatlah informasi dari seorang ASN bernama Zuklifli Mokoagow yang tidak lain adalah ayah kandung korban. Alul mendapat informasi awal bahwa orang yang terakhir melihat Zha adalah seorang wanita bernama Aning yang tinggal tidak jauh dari rumahnya.
Dalam benak Alul bahwa wanita berinisial AM alias Aning itu pasti ada di antara kerumunan warga dan sanak keluarga yang sedang berkumpul panik bercucuran air mata menunggu kabar dari keluarga yang sedang mengobrak abrik semak di halaman belakang untuk mencari tau keberadaan gadis kecil itu.
Bahkan, setelah mendapat petunjuk awal, dia berusaha mencari dengan menanyakan mana warga yang bernama Aning dan ternyata perempuan beranak satu itu tak berada dalam kerumuman warga dirumah itu.
Penasaran, Bupati Boltim itu meminta seseorang untuk memanggil perempuan bernama Aning. Sebab dia ingin mendengar secara langsung penjelasan darinya. Maklum, rumah Aning hanya berjarak sekitar 20 meter dari rumah korban.
Sambil menunggu kedatangan Aning, terbesit di benak Alul untuk melakukan analisa singkat dengan menghubungkan fakta-fakta lapangan seperti Aning orang terakhir bersama Zha, dia masih kerabat dekat, rumahnya hanya berjarak 20 meter, tapi kenapa dia tak berada di rumah itu. Padahal suasana rumah Zha sedang ramai.
Sekitar 20 menit menunggu, akhirnya munculah wanita yang dinanti, mengenakan baju daster terusan warna hijau, serta rambut sebahu yang di beri pewarna. Dia muncul dengan nafas terengah dan langsung menjabat tangan dan duduk diapit Alul yang didampingi satu sahabat bernama Fiko.
Belum sempat melontrkan semua pertanyaan yang sudah disiapkan, justru Aning sudah menjelaskan tanpa henti perjumpaannya dengan Zha terakhir. Tapi ada hal yang membuat Alul curiga. Pertama, nafasnya begitu tajam, seperti bau orang yang sedang terkena ganguan pencernaan karena sakit maag.
“Saya diam-diam menyimpulkan bahwa dia mungkin tertekan dan stres hingga terserang asam lambung tinggi. Kedua, aroma badanya maaf begitu anomali (tidak normal). Saya bahkan harus mengeser posisi duduk saya agar berjarak tapi bau amis tetap menyengat. Tak itu saja, saya memperhatikan gestur tubuhnya begitu gugup yang menjelaskan juga diikuti bahasa tubuh yang begitu mencurigakan. Seperti mengulung ujung bagian bawa dasternya, meremas jarinya serta matanya yang tidak begitu fokus,” tutur Alul lewat akun Facebook miliknya.
Bahkan, dari mikro ekspresi wajahnya sangat terlihat dia sedang berbohong, dia mengarang cerita dan mem-framing sebuah peristiwa agar pemikiran kita akan tergiring dengan cerita peristiwa yang dia skenariokan. Tak hanya Alul, sahabatnya Fiko juga memperhatikan hal yang sama lantaran gerak geriknya yang mencurigakan.
Saat berada di Puskesmas Tutuyan bersama jajaran Polres Boltim, Alul sempat mendekati Kasat Reskrim dan berbisik bahwa pelakunya adalah seorang perempuan. Nah, naluri jurnalis Alul itu dipadukan dengan hasil pengembangan penyidikan sementara polisi mengarah pada pelaku yang sama.
Kalimat istigfar pun terlontar saat Kapolres Boltim AKBP Sugeng Setya Budi memberitahukan bahwa perempuan bersama Bupati Boltim tadi adalah pelaku pembunuhan sadis. Singkat cerita, uraian diatas menunjukkan bahwa naluri jurnalis mantan pewarta di bumi Nyiur Melambai yang kini menjabat Bupati Boltim belum pudar, bahkan terbilang jenius.(**)
Penulis adalah Pemimpin Redaksi dengan Kompetensi Wartawan Utama.










